Postingan

Memelihara Hantu yang Tidak Pernah Lapar

Satu pertanyaan sederhana: *"Bagaimana harimu?"* atau *"Kamu baik-baik saja?"* Ternyata, kalimat-kalimat itu terlalu mahal untuk kapasitas memorinya. Dia tidak pernah bertanya. Menakjubkan, bukan? Bagaimana seseorang bisa menjadi pusat semesta bagi kita, sementara kita bahkan tidak masuk dalam daftar catatan kaki di hidupnya. Namun, di sinilah kebodohan atau sebut saja ketulusan terhebatku bermain. Aku memutuskan untuk tetap tinggal. Menyayanginya dengan cara yang paling purba: memberi tanpa pernah masuk dalam daftar penerima kembali. Sebuah investasi emosional paling buruk abad ini, tapi aku melakukannya dengan sukarela. Aku tidak meminta dia membalikkan dunia untukku. Tidak perlu. Aku hanya meminta sedikit ruang sekecil celah pintu, agar dia tahu aku ada di sini. Berbagilah sedikit cerita, atau paling tidak, berpura-puralah bahwa keberadaanku ini agak berguna untukmu. Aku tahu, mungkin di matanya aku hanya seperti perabotan usang di sudut kamar ada, tapi tidak per...

Di Balik Pintu yang Tak Pernah Benar-benar Terbuka

Ada jenis lelah yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur delapan jam. Ia adalah lelah yang tumbuh dari ketukan pintu yang tak kunjung dijawab, padahal kita tahu ada seseorang yang sedang menahan napas di balik sana. Belakangan ini, aku merasa seperti sedang membaca buku dengan halaman-halaman yang direkatkan. Aku bisa melihat sampulnya yang indah, merasakan tekstur kertasnya, bahkan mencium aroma ceritanya yang menjanjikan. Namun, setiap kali aku mencoba membuka lembar baru, ia tersangkut. Ada penolakan yang sunyi, sebuah barikade tanpa suara yang membuatku bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang aku baca? Labirin Tanpa Peta Mendekatimu terasa seperti berjalan di atas hamparan salju tipis. Satu langkah terlalu berat, aku akan terperosok; satu langkah terlalu ringan, aku tak akan sampai ke mana pun. Aku menginginkan sebuah dialog yang dewasa—percakapan yang bukan sekadar basa-basi tentang cuaca, melainkan tentang bagaimana kita memandang dunia. Aku ingin kita bertukar pikiran secara ...